Anak adalah titipan/amanah yang Tuhan berikan kepada kita orang tua.
Sebagai orang tua kita harus bisa menjaga dan mendidik anak agar bisa menjadi pribadi yang baik.
Anak adalah cerminan dari orang tua, setiap tingkah laku anak mencerminkan sikap kita.
Seperti kata pepatah “buah jatuh tak jauh dari pohonnya,”…..betulkan????.
Shalat sebagai salah satu bagian penting ibadah dalam Islam sebagaimana bangunan ibadah yang lain juga memiliki banyak keistimewaan. Ia tidak hanya memiliki hikmah spesifik dalam setiap gerakan dan rukunnya, namun secara umum shalat juga memiliki pengaruh drastis terhadap perkembangan kepribadian seorang muslim. Tentu saja hal itu tidak serta merta dan langsung kita dapatkan dengan instan dalam pelaksanaan shalat. Manfaatnya tanpa terasa dan secara gradual akan masuk dalam diri muslim yang taat melaksanakannya.
Selanjutnya shalat merupakan media komunikasi antara sang Khlalik dan seorang hamba. Media komunikasi ini sekaligus sebagai media untuk senantiasa mengungkapkan rasa syukur atas segala nikmat. Selain itu, shalat bisa menjadi media untuk mengungkapkan apapun yang dirasakan seorang hamba. Dalam psikologi dikenal istilah katarsis, secara sederhana berarti mencurahkan segala apa yang terpendam dalam diri, positif maupun negatif. Maka, shalat bisa menjadi media katarsis yang akan membuat seseorang menjadi tentram hatinya.
Shalat yang khusyu’ mewujudkan ubudiyah yang benar-benar karena Allah, ikhlas, pasrah, rendah diri terhadap dzat yang maha suci. Dalam shalat kita meminta segala sesuatu kepada dan hidayahNya untuk menuju jalan yang lurus. Kepada-Nyalah seseorang berkenan memohon ijabah dan mencurahkan segala sesuatu, baik dalam hal cahaya hidayah, limpahan rahmat maupun ketentraman.
Ibadah shalat yang dilakukan dengan baik, berpengaruh bagi orang yang melakukannya. Ibadah yang dilakukannya membawa ketenangan, ketentraman dan kedamaian dalam hidup manusia. Manusia yang tenang hatinya tidak akan mudah goncang dan jatuh saat ditimpa.
Ajaran-ajaran akhlak rasulullah adalah ajaran akhlak yang terkandung dalam Al-qur’an, yang didalamnya mengajarkan bagaimana moral individu manusia terhadap kehidupan sosial dan kehidupan agamanya.
Melalui pelaksanaan ibadah shalat secara kontinue dari waktu kewaktu yang telah di tentukan batasnya di harapkan akan selalu ingat kepada Sang PenciptaNya, sehingga dalam melakukan segala aktivitas akan terasa diawasi, terkontrol dan di perhatikan oleh Dzat yang maha mengetahui, maha melihat, dan maha mendengar. Konsekwensinya adalah terhindar dari melakukan segala perbuatan yang bertentangan dengan Islam.
Shalat tidak hanya mengandung nilai ubudiah semata akan tetapi shalat juga mengandung hubungan baik dengan sesama makhluq Allah lainnya. Setiap Muslim di tuntut untuk merealisasikan dalam bentuk prilaku kehidupan, seperti yang di kehendaki oleh Allah yang pada akhirnya akan terealisasi bahwa ibadah sholat ini mampu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar.
Ayat tersebut mengandung pengertian bahwa kerjakanlah shalat secara sempurna seraya mengharapkan keridhoannya dan kembali kepadanya dengan khusyu’ serta merendahkan diri. Sebab jika shalat dikerjakan dengan cara demikian maka ia akan mencegah dari perbuatan kekejian dan kemunkaran.
Shalat yang di kehendaki Islam bukanlah semata-mata sejumlah bacaan yang diucapkan oleh lisan, sejumlah gerakan yang dilakukan oleh anggota badan tanpa di sertai kesadaran akan kekhusyu’an hati. Tetapi shalat yang diterima adalah shalat yang terpenuhi ketentuan-ketentuannya berupa perhatian fikirannya, kedudukan hatinya dan kehadiran keagungan seakan-akan berada di hadapannya. Sebab tujuan utamadari shalat adalah agar Manusia selalu mengingat Tuhannya yang maha tinggi.
Dari uraian tersebut di atas, maka shalat merupakan ibadah yang memiliki nilai edukatif yang tinggi dan luas. Dalam hal ini shalat mempunyai daya penunjang bagi pembentukan akhlak manusia untuk berbuat kebaikan dan meninggalkan kejelekan, menjauhi fakhsa’ dan munkar, mengurangi kelesuan di saat menderita, akan terjaga dari sifat keangkuhan, kesombongan di saat memperoleh nikmat. Shalat akan menanamkan dalam hati kesadaran adanya kontrol Illahi, memelihara aturannya, Sholat juga mengajarkan bagaimana menjaga kedisiplinan waktu, takut akan siksaan dan ancamannya serta sanggup mengalahkan sifat-sifat kelemahan manusia lainnya yang semuanya itu termasuk ke dalam akhlaqul karimah.
Tujuan dan Faedah Shalat
Tujuan shalat sebagai sarana pendidikan budi luhur dan pri-kemanusiaan dilambangkan dalam ucapan salam sebagai penutup komunikasi dengan Allah swt. Ucapan salam adalah permohonan untuk keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan orang banyak, baik yang ada di depan kita ataupun tidak dan ucapan sebagai pernyataan kemanusiaan serta solidaritas sosial. Dengan demikian shalat di awali dengan takbir sebagai pernyataan hubungan dengan Allah swt. dan di akhiri dengan salam sebagai pernyataan hubungan dengan sesama manusia.
Allah memerintahkan shalat kepada manusia tentulah ada tujuannya. Tujuan tersebut bukanlah untuk kepentingan Allah melainkan untuk kepentingan manusia itu sendiri, ketenangan dan kebahagiaan hidup di dunia maupun kelak di akhirat. Adapun tujuan shalat itu adalah:
a) Supaya manusia menyembah hanya kepada Allah semata, tunduk dan sujud kepada-Nya.
b) Supaya menusia selalu ingat kepada Allah yang memberikan hidup dan kehidupan.
Mengingat Allah akan menghindarkan kita dari segala bentuk kemalasan dan kelesuan, serta rasa tidak tenang dan ketakutan saat melakukan kesalahan dan kelalaian dalam menjalankan kewajibanMengingat Allah akan menghapus dan menjauhkan kecemasan dan ketakutan.
c) Supaya manusia terhindar dari melakukan perbuatan keji dan mungkar, yang akan mendatangkan kehancuran.
Shalat mempunyai faedah atau manfaat dalam keagamaan, pendidikan, individu dan masyarakat. Di antara faedah atau manfaat shalat adalah sebagai berikut :
a) Dengan shalat dapat membangun hubungan yang baik antara manusia dengan Tuhannya.
b) Dengan shalat seseorang akan memperoleh keamanan, kedamaian dan keselamatan.
c) Shalat sebagai sarana mendekatkan diri (taqorrub) kepada Allah.
d) Shalat dapat mencegah perbuatan yang keji dan munkar.
Shalat adalah salah satu dari Rukun Islam yang lima, berdasarkan sabda Rosulullah SAW, ”Islam didirikan diatas lima perkara: (1) Mengakui bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad SAW adalah utusan-Nya; (2) Mendirikan shalat; (3) Mengeluarkan zakat; (4) Puasa di bulan Ramadhan; (5) Menunaikan ibadah haji bagi yang mampu.”(H.R. Bukhari Muslim).
Shalat yang telah ditetapkan waktunya ada 5 waktu, terdiri atas 17 rakaat yaitu Shalat Subuh 2 rakaat, Shalat Dzuhur 4 rakaat, Shalat Ashar 4 rakaat, Shalat Maghrib 3 rakaat, dan Shalat Isya’ 4 rakaat.
Shalat merupakan ibadah yang paling utana kepada Allah, karena dengan shalatlah kita dapat berkomunikasi dengan Allah Sang Maha Pencipta. Dan shalat pulalah ibadah yang akan pertama kali dihisab oleh Allah di hari kebangkitan kelak.
Shalat inilah ibadah yang dapat mempengaruhi nilai ibadah lainnya. Seorang ahli ibadah sekalipun jika tidak shalat maka sia-sia semua amalan ibadahnya. Seseorang yang nilai shalatnya baik, maka semua amalan ibadah yang lain akan ikut baik pula, begitu pula sebaliknya.
Sholat adalah ibadah yang harus kita kerjakan dalam kondisi apapun, kecuali karena ada alasan yang syar’i, jadi walaupun sakit, dalam perjalanan bahkan dalam kondisi perangpun harus kita laksanakan. Kenapa begitu? Karena ada beberapa alasan kuat yaitu : sholat adalah tiang agama, sholat adalah pembeda antara orang muslim dan kafir, sholat adalah ibadah yang pertama kali akan dihisab di akherat kelak.
Hmmmmm……sungguh indah bukan arti dan manfaat keutamaan ibadah sholat, betapa rindu dan bahagianya ya jika kita memiliki anak-anak yang rajin sholat, sholatnya selalu tepat waktu, khusyu, sholatnya selalu berjama’ah. Subhanalloh, anugrah yang luar biasa….
Masalahnya bagaimana agar angan-angan kita di atas itu tidak seperti mimpi disiang bolong, tapi bisa terwujud menjadi kenyataan? ……Eits sabar dulu, Alhamdulillah ada lho Tips nya…..bagaimana caranya, mari kita simak bersama dibawah ini :
1.Contoh atau keteladanan. (Al-Qudwah)
Contoh atau keteladanan dari kita sebagai orang tua dan Guru sangatlah penting dan merupakan pendidikan paling mendasar, kenapa? karena kita adalah cermin hidup bagi anak-anak kita. Oleh sebab itu jangan sampai kita menyuruh anak kita sholat tapi kita masih asyik di depan TV, atau menyuruh anak kita sholat ke masjid tetapi kita masih sibuk dengan HP atau BB kita atau tugas-tugas lain yang menjadi rutinitas kita. Ingat, apa yang kita lakukan dilihat dan direkam oleh anak-anak kita lho….
2. Nasehat penuh Cinta (Al-Mau’idzah)
Ketika kita sudah memberi contoh dan keteladanan untuk anak-anak kita, jangan lupa iringi dengan nasehat dan arahan yang Islami ketika anak kita lupa sholat, atau menunda, atau sholatnya terburu-buru, habis sholat lantas jalan tanpa diikuti dzikir dan doa terlebih dahulu. Dan ingat! Nasehat jangan di tunda menunggu nanti pas makan malam bersama, atau pas menjelang tidur, khawatir anak kita keburu lupa. Nasehat sebaiknya disampaikan saat itu juga ketika kita melihat anak melakukan kesalahan. Karena kesalahan-kesalahan yang didiamkan bisa menjadi kebiasaan karena anak merasa itu bukan sebuah kesalahan, dan yang lebih parah lagi apabila kesalahan-kesalahan itu akhirnya menjadi penyakit hati. Na’udzubillahimindzalik.
3. Pembiasaan / pengkondisian (Al-‘Aadah)
Ada pepatah mengatakan karena kebiasaan akhirnya menjadi bisa dan terbiasa. Insya Alloh ketika keteladanan dan nasehat sudah kita lakukan jangan lupa pembiasaan agar semua kebaikan dan sifat-sifat terpuji yang sudah kita tanamkan, khususnya sholat ini menjadi kewajiban rutin bahkan kebutuhan yang harus dipenuhi. Caranya bisa dengan bersegera mengambil air wudhu ketika adzan terdengar, hentikan semua aktivitas dan kerjaan, matikan televisi, terus sholatnya diusahakan selalu berjama’ah. Dan jika semua hal baik yang sudah kita tanamkan lalu kita laksanakan secara kontinyu maka lama-lama akan menjadi suatu pembiasaan / pengkondisian yang baik yang islami sesuai syariat.
4. Kontrol yang terus menerus (Al-Mulahadzah)
Kontrol dan pengawasan yang cermat perlu kita lakukan agar keteladanan yang kita tunjukkan , nasehat yang rutin kita sampaikan serta pembiasaan yang sudah kita tanamkan efektif maka kita perlu mengontrol secara terus menerus tanpa henti, sehingga ketika anak mulai mengendur kita bisa sharring atau diskusi dengan buah hati kita, kenapa kok kurang semangat sedangkan biasanya rajin, ada masalah atau kendala apa, apa ada yang bisa Bunda atau Ayahanda bantu, dll agar kita bisa evaluasi dan memotivasi serta memberi penguatan kembali.
5. Hukuman yang mendidik ( Al-‘Uqubah)
Dan ketika keempat langjah diatas sudah kita laksanakan namun ternyata anak masih melakukan pelanggaran diantaranya sholat sambil bercanda, tidak khusyu dan tidak mau berjam’ah dengan alasan lelah dan capek maka barulah langkah terakhir kita antisipasi yaitu dengan memberikan hukuman yang berdampak menimbulkan efek jera dan bertujuan mendidik atau bersifat konstruktif ( membangun ). Miisalnya : jika sholat Subuh kesiangan tidak mendapat uang jajan, ketika sholat bercanda harus di ulang lagi sholatnya, sholat terburu-buru apalagi mendahului imam berarti baca istighfar 50 x sesudah sholat, lupa sholat atau meninggalkan sholat karena asyik bermain maka selama satu pekan atau Sabtu & Minggu tidak boleh main games lagi.
Gimana mudahkan???.....semoga hal ini bermanfaat bagi kita semua, amiin………………
Disarikan dari berbagai sumber dan terima kasih buat istriku atas segala perjuangannya dalam mendidik anak2 kami menjadi generasi yg sholeh dan sholihah serta ITAH M. MAFAHIR (www.kompas.com) atas inspirasinya, semoga Allah selalu merahmati bagi segala niat baik kita dalam membangun generasi baru yang islami, amiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar